Halaman

5 Jul 2022

Meet Up

Teman online kedua yang pernah saya temui adalah Buset. Para aktifis sosmed pendukung Prabowo pada Pilpres 2019 lalu, mustahil rasanya tak kenal nama orang ini. Berkali-kali tulisannya nangkring di Portal Islam, salah satu portal berita yang banyak menjadi rujukan kaum oposisi. Dia adalah salah satu influencer utama tim pemenangan Prabowo.

Saya mengenalnya memang dari tulisan-tulisan yang kerap dimuat di Portal Islam. Sebaliknya, dia mengaku kenal dari postingan-postingan saya di KBM. Waktu itu Siraul Nan Ebat termasuk salah satu top akun, 'kan?🤣

Suatu kali saya berkomentar di lapak seorang teman oposisi yang juga jadi temannya. Dari bahasa saya, dia coba menebak dan tebakannya benar.  Kami berasal dari kampung yang sama. Jarak tempat tinggal kami berdekatan. Lima menitan lah, bila motoran. Janjian ketemu, donk! Di satu tempat ngopi di daerah Dangung-dangung. 

Ternyata usia kami pun, sebaya. Alhasil, dari saling cerita itu kami menemukan beberapa teman duta yang kita saling kenal satu sama lain. Dia bahkan mengaku, saat kuliah di Padang, satu kamar kost dengan teman sekaligus tetangga saya. Ketika saya menyebut sebuah nama--teman satu MTs dulu--dengan antusias dia mengaku masih ada hubungan kekerabatan dengannya.

Satu-satunya yang kurang mungkin, walau sebaya, kami hidup di masa yang berbeda. Maksudnya, saya dari kecil tinggal di kampung. Lepas MTs, lanjutkan sekolah di rantau. Sementara dia sebaliknya. Sedari kecil tinggal di rantau. Barulah saat kuliah pulang dan tinggal di kampung. Itulah kenapa saya tahu si A, dia ga kenal. Sementara dia mengenal si B, sedang sayas sudahlupa, hahaha....

Dengannya saya pernah dua kali bertemu. Janjian di tempat yang sama. Alasannya, bila saat pertama saya dianggap sebagai tuan rumah, maka di pertemuan kedua, dialah yang menjamu saya. Gantian membayar minumannya.

Durasi pertemuan juga cukup lama. Dari selepas Isya, sampai hampir jam 1 dini hari, menjelang cafe itu tutup. Walau berdua saja, tapi obrolan lancar. Banyak topik dan isu yang bisa kami diskusikan. Tapi off the record ajalah, ya! 

Tapi kini kami sedang pisah. Dinamika politik memutus komunikasi. Kami ada di pihak yang saat ini saling berseberangan. Seorang dianggap sebagai Kalengers (pendukung Prabowo anti rekonsiliasi), sementara yang lainnya seorang Panglima Koved (loyalis sejati Bapaaaaaaaak).🤣🤣

Tapi kalem aja, sih! Gelaran pilpres berikutnya tak lama lagi. Bakalan ada moment yang meminta kita untuk kembali bersilaturahim. Saya masih menyimpan nomornya. Pun tentu begitu sebaliknya? Yang jelas apapun itu, bagi saya kardus sudah digembok, remuk dan terpuruk dalam kolam.

3 Jul 2022

Ingin ke Jawa

Kota yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia? Suatu saat tentu saya ingin kembali bernostalgia mengunjungi Batam. Tapi saya sangat ingin main-main ke pulau Jawa. Tak ada kota khusus. Semata ingin berkeliling dan mengenal Jawa. Sembari tentu saja untuk bersilaturahim dengan Para Penggaruk, fans Rekreasi Hati semuanya, hahaha...! 


Akhir 2018 lalu saya pernah untuk pertama kalinya menginjak pulau Jawa. Lebih tepatnya sih, Jakarta. Hahaha...! Waktu itu ikutan acara Reuni 212, donk! Sayangnya dengan waktu yang mepet dan keharusan segera pulang membuat saya tak sempat kemana-mana. 


Adik saya bekerja di daerah Pondok Kelapa. Demi kepentingan sejarah, sempatlah saya pinjam motornya untuk menginjakkan kaki di tanah Jawa Barat, yakni Bekasi. Kurang lebih 15-an menit naik motor dari tempat kerja adik saya. Ga berani jauh-jauh, donk! Yang penting saya sudah pernah ke Jawa Barat, hahaha...! Alhamdulillah, di salah satu hari liburnya, saya pernah juga diajaknya sampai ke Cibinong, ke rumah seorang teman lama. Tapi di luar itu, saya belum tahu apa-apa tentang pulau Jawa.


Apa yang saya ingin lakukan nanti di sana? Ingin ke mana saja? Lagi-lagi tak ada yang khusus. Saya sudah cukup puas menikmati indah dan sejuknya alam Sumatera. Kalaulah kelak ada yang berkenan menemani, saya hanya butuh diajak berkeliling ke mana saja. Tapi sebelum itu, saya mau cari ongkosnya dulu lah, hahahaha...!


Kota Rindu

 Tempat paling berkesan? Apa ya? Dua puluh tahunan tinggal di Batam yang cuma seupil itu tentu saja saya punya banyak kenangan yang sangat berkesan. Di Bengkong misalnya, saya punya banyak teman, saudara dan orangtua angkat yang sudah pasti menyayangi saya. Saya dianggap sebagai anak atau saudara sendiri. Walau sebetulnya saya cuma orang asing yang kebetulan tinggal di sana. Wahhh, Bengkong adalah rindu terbesar saya. Semoga kalian sehat-sehat saja ya, semuanya.


Kemudian, sebuah rumah di belakang Hotel Seruni, Seraya Bawah. Saya juga punya Abang, kakak atau orangtua angkat di sini. Mereka adalah rindu terbesar saya juga.


Terakhir, tentu saja Labtech. Kurang dari empat tahun bekerja di perusahaan ini sungguh masa-masa yang tak terlupakan. Segenap sayang, cinta, benci dan dendam saya kumpul semua di sini. 


Di Labtech ini saya merasa benar-benar menjadi seorang yang bernilai. Bahkan ada satu tempat duduk di sana yang telah dianggap sebagai singgasana milik saya. Tiap jam istirahat, tak seorang pun berani mendudukinya. Di situlah saya jadi pusat segala diskusi, bual-bualan dan omong kosong semasa jam istirahat. Tepat di bawah sebuah batang pohon besar. Di sana saya bak raja, dengan dikelilingi teman-teman yang setia mendengar oceh dan bualan saya.


Labtech adalah sejarah abadi kehidupan saya. Ada teman yang berakhir jadi saudara, karena dinikahi sepupu saya. Ada manajer yang menjadi musuh sejati saya. Dan tentu saja karena Dian dan Rani-nya. Rekreasi Hati mungkin takkan pernah ada, tanpa Labtech sebagai perusahaan tempat saya bekerja. Rindu kalian semuanya.💖💕

2 Jul 2022

Payakumbuh

Kota kelahiran? Saya ini anak kampung. Tapi jika maksudnya daerah kabupaten/kota, saya bisa menyebut kabupaten 50 Kota. Walau namanya 50 Kota, tapi satu-satunya kota di kabupaten tersebut adalah Payakumbuh, yang sekaligus sebagai ibukotanya.

Dulu, Payakumbuh dikenal dengan julukan Kota Batiah, atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai rengginang. Tapi belakangan ini Payakumbuh dikenal sebagai kota rendang, masakan yang beberapa kali dinobatkan sebagai makanan terenak sedunia oleh berbagai lembaga survey atau riset.

Kabupaten 50 Kota sendiri sebetulnya termasuk salah satu kota di Indonesia dalam kategori miskin. Bila saya perhatikan, itu lebih disebabkan karena gagalnya pemerintah (kabupaten) mengeksplorasi sumber dayanya sendiri. Padahal daerah ini potensial menjadi salah satu yang terkaya sumber alamnya. Di sini bahkan ada nama daerahnya Gunuang Omeh (Gunung Emas), karena memang bumimya kaya dengan emas. Tapi entah kenapa gagal dieksplore pemerintahnya?

Di luar itu, daerah ini punya keunggulan objek pariwisata yang komplet, yang layak membuat iri daerah lainnya. Benar-benar lengkap. Mulai dari wisata kuliner, wisata alam, budaya dan wisata sejarahnya.

Selain rendang, ini adalah daerah produsen berbagai jenis keripik dan kerupuk. Mulai dari sanjai, upuak lento sampai batiah dan ganepo. Beragam keripik berbahan ubi, talas atau kentang. Bermacam kerupuk, mulai dari yang bahannya beras, tepung sampai daging atau ikan.

Kekayaan wisata kuliner itu dilengkapi pula dengan produksi berbagai macam jenis galamai dan wajik, mulai dari yang selunak dodol, sampai yang sekeras batu. Dari yang makannya dikunyah, sampai dengan yang diemut. Ada yang cukup dicuil, tapi ada pula yang butuh kapak untuk hanya untuk mencicipinya, hahaha...!

Wisatawan juga bisa pula menikmati wisata kebun teh atau kebun jeruk, nun jauh ke atas, lingkup Bukit Barisan. Ada pula objek wisata sejarah seperti beragam monumen dan musem PDRI. Dan sebagainya.

Wisata alam adalah kekayaan terbesarnya. Dalam kerimbunan hutan Bukit Barisan itu ada puluhan goa atau air terjun yang bahkan belum pernah terjamah kotor dan jahilnya tangan manusia. Alami. Masih perawan dan sangat khas alam Sumatera ya. Itulah kenapa saya sangat kecewa, kenapa kawasan Harau malah dibuat ala-ala Korea, Jepang atau Eropa? Dengan begitu banyaknya objek alami yang tak terurus, dengan ganjennya Pemkab masih saja membuat taman-taman ciptaan yang malah sama sekali tak ada khas daerahnya?

Andai punya kewenangan? Dengan sedikit memperbaiki infrasturktur jalan, saya akan pindahkan Tour de Singkarak ke 50 Kota. Start misalnya di Maek, naik ke Baruah Gunuang, Koto Tinggi dan turun lagi ke Suliki untuk berakhir di Harau atau Kelok Sembilan. Para peserta akan dimanjakan dengan objek alam seperti yang ada di kalender-kalender. Aneka jenis kuliner daerah akan masyur sampai ke mancanegara. UMKM akan berjaya. Ribuan lapangan kerja dan usaha akan terbuka. Ekonomi masyarakat pun akan naik dengan sendirinya. 

Meet Up

Teman online kedua yang pernah saya temui adalah Buset. Para aktifis sosmed pendukung Prabowo pada Pilpres 2019 lalu, mustahil rasanya tak k...